Rabu, 26 Juli 2017

Beauty Writing

Hei. Mulai sekarang saya sepertinya akan mulai menulis tentang resensi produk make up atau skincare. Bukan karena sedang kambuhan ikut beauty blogger dsb. tapi karena hanya ingin menambah ilmu menulis tentang hal lain di luar film. Penyebab lain bisa jadi karena sebulan kemarin saya iseng mengikuti dua lomba beauty writing dan menang semuanya (walau cuma hadiah sederhana). Jadi agak terpancing untuk menulis banyak-banyak tentang itu. Saya tidak jago, saya tidak juga akan menulis produk-produk yang branded atau sedang in, hanya ingin menulis apa yang pernah atau telah saya beli.

Mulai dari sini ya.

Minggu, 16 Juli 2017

Gender dan Seksualitas : Ketika Kita Menolak Untuk Mengerti



Kita harus mengakui bahwa kita adalah bagian dari generasi yang terbiasa hanya menonton dan mengikuti sehingga kemudian tidak ada pertanyaan-pertanyaan baru yang mampir di kepala kita tentang kenapa dan apa, tentang bagaimana rasanya ada di pihak orang lain, terutama dalam hal ini adalah menjadi minoritas. Kita juga bagian dari generasi yang harus meyakini bahwa hanya satu hal yang benar dan yang lainnya berarti salah, suatu perintah atau gagasan kosong yang tidak boleh didebat apalagi ditelusuri. Kita juga yang hanya diajari bahwa warna hanya boleh ada satu dan berdiri sendiri-sendiri, maka kolaborasi warna bak pelangi dipandang sebagai suatu ketidakwajaran, mendekati mustahil. Begitu pula halnya dengan fenomena keberagaman gender dan seksualitas atau LGBT di Indonesia.

Hal ini masih mendapat stigma negatif bagi masyarakat kita.  Alasannya mulai dari dinilai melawan aturan dan nilai-nilai lama terutama nilai agama, karena ketakutan kalau-kalau LGBT bisa menular dan menjangkiti atau hanya karena bermodalkan cerita-cerita selentingan lewat tentang betapa bahayanya LGBT yang kemudian ikut mempengaruhi opini. 

Padahal sebenarnya isu LGBT bisa menjadi ruang diskusi yang membuka introspeksi dan wawasan baru kalau saja kita tidak menolak untuk  mau mengerti. Persoalan ragam gender dan seksualitas yang kembali diperbincangkan membuat saya kembali mempertanyakan tentang banyak hal mulai dari bagaimana opini dari pihak minoritasnya sendiri? Apakah persoalan gender dan seksualitas yang beragam adalah sesuatu hal yang baru-baru saja datang sebagai “tren dari luar negeri” (seperti apa yang dibilang masyarakat yang kontra tersebut) atau sebenarnya ada sejarah panjangnya yang hanya kita tak tahu saja? Bagaimana membuat isu LGBT bukan jadi sasaran diskriminatif semata, bukan malah membentuk Indonesia menjadi negara dengan masyarakat yang berpola pikir sempit dan sibuk menghakimi namun malah sebaliknya? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian menggerakkan saya untuk menulis ini. 

Tulisan ini saya himpun dengan juga berusaha melihatnya dari sisi budaya, sejarah dan agama. Ada usaha untuk memahaminya baik dari sisi mereka yang setuju atau tidak setuju. 

Pertama, tentang budaya dan sejarah. Gender dan seksualitas tentu punya lika-liku sejarah panjangnya sendiri, dan tidak bisa disederhanakan begitu saja. Kita harus tahu juga bahwa bahkan di banyak budaya yang dianut lintas daerah juga menyimpan ceritanya sendiri tentang orang dengan gender atau seksualitas yang kompleks. Misalnya suku Bugis yang mengenal Bissu sebagai perantara dan pemimpin ritual adat yang tidak mewakili hanya satu gender.

Isu cross-gender ini juga bukan hal baru pada pementasan seni drama atau tari. Ludruk dari Jawa Timur atau Lengger Lanang dari Banyumas mengenal peranan yang ragam gender, belum lagi tradisi-tradisi seni dan budaya lain yang mungkin tersembunyi di daerah pelosok. 

Dari sini kita dapat meluruskan bahwa isu gender dan seksualitas memang sudah kompleks sejak awal dan bukanlah hal baru yang dapat dengan mudahnya dilabeli sebagai “tren dari luar negeri”. Tidak ada tren, apalagi didapat dari impor. Bahkan sebenarnya fakta bahwa ragam gender dan seksualitas adalah hal lama dalam kultur kita membuahkan suatu pertanyaan bahwa kenapa dulu tidak ada kontroversi dan ketakutan-ketakutan seperti jaman sekarang? Satu-satunya yang membuat fakta itu terlupa mungkin hanyalah modernisasi yang kemudian membuat golongan seperti Bissu atau pementasan seperti Lengger Lanang pelan-pelan tenggelam dimakan arus jaman. Namun bukankah menjadi dua kali lebih ironis ketika sesuatu hal yang sudah diterima masuk dalam kultur dilupakan dan malah sekarang dipahami sebagai sebuah stigma negatif?

Lepas dari persoalan tradisi dan budaya setempat, kita tidak bisa menampik kalau persoalan gender dan seksualitas di Indonesia memang selalu dihubung-hubungkan dengan agama. Kebanyakan tentangan terhadap LGBT juga karena dalih agama yang dipercaya tidak menyediakan tempat bagi mereka yang bukan heteroseksual. Tapi benarkah ini? Lebih jauh lagi pertanyaannya, apakah LGBT tidak berhak menerima pendidikan agama atau tersangkut-paut di dalamnya? 

Untuk pertanyaan pertama, sepertinya kita harus memahami dulu bahwa hakikat pendalaman agama begitu luas dan bila hanya mengutip sebuah tafsir tanpa usaha untuk melihat teks keseluruhan atau mencari pendapat lain tentu tidak seharusnya kita begitu yakin untuk menghakimi. Jadi teringat ketika Abdul Muiz Ghalafi, seorang  peneliti studi Islam yang saya baca dalam sebuah artikel mengatakan bahwa tafsir agama bisa dimonopoli, dan disitulah berbahayanya bagi isu yang masih bersifat kritis semacam LGBT ini. Belum lagi menyadari bahwa masyarakat kita sering mudah percaya pada tafsir-tafsir yang sepotong itu sehingga isu semacam ragam gender ini sudah duluan dimusuhi dan dianggap sesat.

Orang-orang dengan ragam gender dan seksualitas juga sering dipisahkan dari kenyataan bahwa mereka pun juga memiliki sisi agamis. Pemikiran bahwa tidak mungkin seseorang dengan pilihan seksualitas sebagai gay atau transgender misalnya, untuk juga dapat jadi seseorang yang rajin beribadah tentu adalah pemikiran yang sempit. Tentu sebagai manusia, kita semua berhak untuk mendapat dan mencari pendidikan agama. Siapakah kita untuk bisa mengatakan seseorang sudah pasti berdosa atau melakukan kesalahan telak? Contoh kasus tentang pesantren khusus waria Al-Fatah di Yogyakarta yang tragisnya ditutup karena dipandang menyalahi aturan agama harusnya menjadi refleksi sosial yang tak boleh terulang lagi. Mengingat waria yang di lingkungan sosial kita masih mendapat stigma miring dan dipinggirkan, pendirian pesantren ini diharapkan mampu menjadi harapan mereka agar tetap mendapat pendidikan agama. Tujuan yang sangat mulia tentunya, namun sayang dalam praktiknya masih mendapat diskriminasi.

Di Banjarmasin kota saya sendiri, hal serupa juga pernah terjadi. Komunitas waria yang tergabung dalam Ikatan Waria Banua (IWB) Banjarmasin Transgender Solidarity (Banjaraty) pernah mengadakan sebuah acara pemilihan kepengurusan dan hampir dibubarkan polisi. Yang lebih mengecewakan adalah mendapati komentar dari video amatir yang viral saat peristiwa itu berlangsung. Kebanyakan komentar bernada miring yang menjatuhkan komunitas waria tersebut. 

Maka wajar saja bila kemudian kita berpikir bahwa negara ini masih terjebak dalam nilai-nilai lama yang sarat kekolotan, dimana yang ideal hanya diakui sebagai gender wanita dan pria. Di sebuah negara dimana persoalan gender dan seks yang kompleks dianggap ancaman adalah negara yang juga masih menjunjung ide tentang patriarki, yang menganggap ucapan “jangan kayak banci” adalah rujukan bahwa banci identik dengan seseorang yang lemah dan memalukan. Di negara patriarki juga lah terjadi praktik ketidakadilan memandang satu gender atau isu dan pengetahuan seksualitas yang disembunyikan karena dianggap semata-mata adalah aib.

Secara garis besar dapat dikatakan bahwa masyarakat kita masih terbiasa dengan sikap yang pasif dan bahkan sengaja bisu pada hal-hal yang sebenarnya mampu memancing diskusi yang lebih baik lagi. Yang bahaya tentu apabila sikap pasif seperti ini diturunkan pada anak-anak generasi ke depan yang juga akan memahami ragam gender dan seksualitas sebagai sesuatu yang tidak biasa dan tidak normal. Kalaupun ada satu dari mereka yang ingin berusaha mengerti, ruang itu tidak ada atau tidak memberikan banyak jawaban. 

Inilah yang lalu menjadi tugas untuk semua lini baik pemerintah dan kita sebagai anggota masyarakat. Pemerintah sudah seharusnya membuka mata pada minoritas dan bukannya membiarkan penghakiman oleh sejumlah oknum yang mengatakan tidak pada wacana LGBT bahkan sebelum mereka sendiri memahaminya. Pemerintah juga lah yang seharusnya menggiatkan aspek literasi dan kajian terhadap gender dan seksualitas itu sendiri. Bila media memuat provokasi atau ikut menyalahartikan wacana LGBT sebagai agenda, peran pemerintah harusnya mampu untuk mengontrol publikasi semacam itu.

Dan yang terakhir, tentu penting juga bagi setiap kita untuk mulai berpikir adil dan terbuka tentang persoalan gender dan seksualitas. Ini bukan tentang orang lain dan sebenarnya bisa lebih dari tentang mayoritas dan minoritas. Ini tentang gender dan seksualitas yang merupakan hak milik masing-masing, yang tentunya harus selalu dikaji dan dipahami tanpa henti sama seperti kemanusiaan itu sendiri. *

Minggu, 09 Juli 2017

From movie i saw last night.

"Keputusasaan adalah jalan dengan hambatan terkecil."

Dalam artian yang buruk, bisa jadi seakan-akan tidak ada lagi yang tersisa. Hanya putus asa.

Tapi dalam artian yang baik, bisa berarti nothing to lose. Karena harapan menawarkan jalan dengan hambatan yang lebih besar yaitu keinginan untuk bahagia dan berhasil. Putus asa tidak menawarkan apa-apa. Mungkin hanya sebuah pertanyaan, seberapa jauh kita mampu merusak hidup kita sendiri?

Jumat, 07 Juli 2017

Saat melamun tengah malam mungkin kita akan lebih mudah untuk berkhayal tentang apa saja. Mungkin tentang kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Tentang mengunjungi lagi saat-saat di masa lalu, bertanya apakah ada hal yang bisa kembali, diubah lagi, apakah yang akan terjadi bila kita memilih ini dan bukan itu... tapi kemudian kita menyadari bahwa menjadi orang dewasa sama dengan kita tidak sepenuhnya bisa mengontrol semua. 

Mungkin seseorang dengan pernikahan yang tidak berjalan seindah yang ia bayangkan harus menghadapi perceraian. 

Mungkin seseorang berharap besar memiliki masa depan yang indah tapi ternyata jauh dari bayangan.

Mungkin ada seseorang yang lain yang berharap lima tahun lagi ia akan melihat dirinya menikah. Tapi ternyata, lima tahun itu ia tetap menjadi lajang yang sama. 

Mungkin orang-orang ini, mereka sering tidak bisa mengontrol pertanyaan akan penyesalan. Mungkin penyesalan itu datang kadang-kadang di tengah malam. Siapa tahu mereka memang menyesal atas keputusan mereka tapi mereka harus belajar untuk menerima kesalahan. Kesempurnaan hanya milik mereka yang masih muda, sementara mereka sudah sepenuhnya dewasa. 

Saya tidak tahu kenapa menulis ini tapi saya belajar banyak bahwa hidup memang bisa semudah itu menjadi rapuh dan bisa pula semudah itu menjadi seakan megah dan kokoh. Life is a joke, it is a bullshit, but deep from our heart, we still want to make it beautiful, priceless... meaningful. Because we are human. 

And haven't you heard that human is so fucking stupid.

Rabu, 07 Juni 2017

Dan Senyumlah

"Menelusuri hening malam hari-harimu terlewatkan 
Kau hanya bicara berteman khayalan
Kau tak mendapat jawaban"



Suka sekali dengan bagian lirik lagu ini. Lagunya memang enak.


Jumat, 02 Juni 2017

Ada pernah suatu pagi yang dingin. Ketika tidak ada tempat berpulang bernama rumah. Saat keluarga hanya bisa dibentuk oleh fantasi. Dan sentuhan, cinta, wajah-wajah bertumpukan, tapi tidak akan pernah bisa merasa... karena tidak ada yang nyata.

Pagi itu bisa datang kembali. Cepat atau lambat. Apakah ikhlas bisa menyenangkan dirinya sendiri? Apakah pasrah sudah lebih dari cukup? Meminta sama dengan keinginan. Dan kadang mungkin tidak ada jawaban selain batas antara bangun atau jatuh bila sudah waktunya...


Selasa, 30 Mei 2017

Mimpi Malam Tadi

Mimpi malam tadi antara perpaduan sedikit erotisme, ketakutan yang dingin dan lebih banyak lagi tentang kenangan. 

Tapi saya tidak akan bahas erotismenya, hanya saja saya ingat keluar dari sebuah bangunan mall (atau pertokoan) larut malam lalu saya sadar saya tidak punya jemputan untuk pulang. Saya berpikir "Wah sudah telat sepertinya memesan Gojek" sementara mendadak sekitar saya menjadi sepi, hanya ada beberapa mobil dan motor terparkir, tukang jualan, lelaki-lelaki di sekitar halaman parkir yang membuat saya cemas. Saya berpikir, ini kelamaan bila saya pesan Gojek sampainya. Lalu saya sempat bingung apakah masuk ke dalam mall lagi (berharap disana lebih ramai orang) ataukah berjalan keluar dari kompleks. Bayangan beberapa lelaki asing itu membuat saya merasa khawatir. Jadi saya putuskan berlari cepat keluar menuju jalanan raya. 

Saya mendengar seorang lelaki tertawa dan berkata sesuatu, tentang saya, tapi saya tidak tahu apa. Saya terus berlari cepat. Cepat sekali, rasanya saya sama seperti The Flash. Masih terdengar sedikit suara lelaki itu dan bayangan wajahnya begitu saya menengok ke belakang seakan ia berusaha mengikuti saya. Saya terus berlari... berlari dan akhirnya ketika ia tidak ada lagi, saya merasa lega. Saya sudah ada di keramaian. 

Tapi entah bagaimana, pikiran baru terlintas : Saya mau kemana? Pulang kemana? Lalu saya menjawab sendiri : Ya ampun, saya kan tidak punya rumah! Mendadak saya yakin tempat di dalam mimpi saya ini adalah Bandung. Atau mungkin juga Jakarta. Apapun itu tapi mimpi ini terjadi saat saya suka punya kebiasaan pindah-pindah kos. Dan mendadak, saya sampai di sebuah pagar besi rumah mungil. Agak mirip penampakannya dengan rumah kos pertama saya di Jatinangor dulu. Atau waktu saya di Jakarta pertama kali.

 Saya hanya melewatinya... saya tidak mau masuk. Pikiran saya : "lah itu kan bukan rumah saya lagi... Saya kan sudah tidak diterima lagi mana bisa masuk." Lalu saya berdiri di pinggir jalan, berpikir sebentar mau kemana. Masih teringat ada perasaan cemas, perasaan ketakutan dan lebih lagi suatu kesepian. Bahwa saya seorang diri dan saya tidak punya tujuan untuk pulang. Ingin tidur, ingin sembunyi. Saya merasa tidak aman. Sekilas, saya merasa ada dalam bahaya. 

Ide lain datang yaitu "ah kenapa tidak menginap di MCD saja.... atau restoran 24 jam" tapi saya tahu harus pesan Gojek dulu. Saya pun menyeberang menuju Indomaret (berharap masih buka untuk mengulur waktu sampai Gojek datang) tapi begitu membuka pintu, isinya malah kafe dengan jualan kopi dan roti. Begitu masuk, saya memesan agak banyak dan dilayani seorang perempuan muda berusia sekitar 17 atau 19 tahun yang sedang bekerja bersama ibunya. Saya tidak tahu dia siapa, tidak pernah juga merasa bertemu dia di dunia nyata. Lalu mimpi saya pun selesai. Diakhiri dengan perasaan lega karena kecemasan tentang tujuan pulang itu sudah berakhir walau masih terasa... seakan itu bukan mimpi. Melainkan revisiting satu momen yang agak saya kurang suka, tentang malam yang dingin, sendirian dan merasa putus asa. Sekitar tiga atau empat tahun yang lalu.

*sekedar catatan