Minggu, 11 Februari 2018

Ini adalah saat-saat dimana saya bingung saya sedang merasakan apa. Dan saya tidak mau bilang saya sedih karena itu klise yang membosankan.

Minggu, 28 Januari 2018

Sabtu, 27 Januari 2018

Hari ini saya sepertinya kehilangan banyak sekali rasa percaya diri.

Mungkin besok semua akan kembali. Mungkin besok saya akan bahagia lagi. Entahlah. Bahkan ketika tidak punya harapan, tetap saja semesta punya cara untuk membuat kita terluka.
Ketika sadar bahwa wajah-wajah ini pada akhirnya akan kembali hilang dan dia kembali sendiri, maka kesedihan lebih cepat datang sebagai sebuah pengingat.

Sabtu, 20 Januari 2018

Bekerja dan Tujuan

"Sebenarnya kita bekerja buat apa sih?"

Suatu percakapan di tengah jam istirahat kantor. Saya sendiri mempertanyakan hal yang sama. Apa kita bekerja untuk uang? Yang nanti pada akhirnya juga akan kita habiskan? Apakah kita bekerja untuk gairah, untuk sesuatu yang kita cintai sehingga tidak perlu lagi kita namakan "bekerja"? Itu kan sebenarnya jawaban yang paling menenangkan?

Kita bertahun-tahun sekolah untuk sebuah harapan yang sering dibicarakan oleh guru dan orangtua dulu tentang bekerja di kantor, mendapat gaji besar, berkeluarga dan punya anak. Harapan ini berubah menjadi mimpi dan seringkali adalah keharusan yang menentukan kebahagiaan. Setelah kemudian jadi dewasa, diam-diam kita bertanya dalam hati di tengah hari sibuk dengan badan lelah untuk banting tulang, apakah cuma ini? Apakah kalaupun kita mendapat pekerjaan yang kita cintai dan semua sudah lengkap, kita akan merasa cukup? Karena kita sadar manusia tidak akan pernah merasa puas.


"Sebenarnya kita bekerja buat apa sih?"

Saya gelisah dengan pertanyaan ini. Dan pertanyaan-pertanyaan lain. Bahkan ketika masih memulai, saya cemas dengan apakah nanti saya akan kehilangan tujuan.



Senin, 15 Januari 2018

Hari Ini

“I feel that life is divided into the horrible and the miserable. That's the two categories. The horrible are like, I don't know, terminal cases, you know, and blind people, crippled. I don't know how they get through life. It's amazing to me. And the miserable is everyone else. So you should be thankful that you're miserable, because that's very lucky, to be miserable.”

Maka kehidupan membosankan yang cuma begini-begini saja kadang jadi kemewahan yang bila mendadak hilang akan disesali. Bagaimana hal yang terasa begitu tidak berarti dan sia-sia menjadi berarti. Bagaimana kesepian dan kemalangan dapat kita syukuri ketimbang tertimpa bencana yang lebih buruk lagi. Hari ini adalah buktinya. Saya merindukan kebosanan yang saya benci beberapa hari lalu karena sekarang saya merasakan tahap yang lebih buruk dari kebosanan.

Sabtu, 23 Desember 2017

Ikhlas

Ikhlas itu susah sekali. Padahal manusia itu sejatinya tercipta memiliki ego. Maka ikhlas yaitu seni untuk bersyukur dan merelakan adalah hal yang tidak bisa sekali dua kali dicoba langsung bisa tapi mesti terus diterapkan. Dan manusia yang selalu berusaha mempertahankan ego ini akan merasa tersiksa selama pembelajarannya.

Duh, sebenarnya bisakah kita untuk ikhlas? Untuk tidak menengadahkan kepala terlalu tinggi? Tidak melihat halaman rumput orang lain? Untuk tidak mengagungkan kebahagiaan mereka dan mengerdilkan hidup kita sendiri? Bisakah kita bilang bahwa kita ikhlas dan terus bisa berjalan, walau kita tahu kita terluka seorang diri. Menurut saya kita terluka bukan karena orang lain bahagia. Tapi kita terluka karena kita berpikir orang lain lebih bahagia.

Itulah ego yang harus diikhlaskan.